Kurikulum Ideal & Kurikulum Aktual

Posted: 22 Juni 2010 in Tugas Kuliah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa isi kurikulum itu terdiri atas bahan-bahan pengajaran dan berbagai pengalaman yang diperlukan dalam tercapainya tujuan pendidikan. Adanya tuntutan untuk memenuhi hal tersebut para perencana kurikulum sering kali mengalamai berbagai kesulitan dalam menyusun dan merencanakan isi kurikulum yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Kesulitan tersebut adalah terjadinya perubahan-perubahan dalam segala bidang, yang semakin berkembang setiap waktunya. Tentunya masalah ini harus dianggap serius oleh para pelaksana kurikulum (dalam hal ini guru).

Penyebab dari perubahan kurikulum itu sendiri adalah adanya keadaan masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang sehingga banyak bermunculan masalah kehidupan baru yang diperlukan. Selain itu, muncul pula berbagai macam perbedaan dan perubahan minat, kebutuhan, dan masalah yang dihadapi anak-anak atau remaja. Berbagai perubahan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, dan yang lainnya, ikut pula mempengaruhi penentuan kerelevan kurikulum.

Faktor-faktor tersebut memang terus berkembang dari tahun ke tahun yang mayoritas dari kita tidak bisa mengimbanginya dengan arif dan bijaksana. Dapat dimisalkan dahulu tidak ada sekolah bertaraf Internasional, sekarang bisa kita lihat sekolah-sekolah berbondong-bondong untuk menjadikan sekolahnya bertaraf Internasional. Hal ini tidak lain karena tuntutan zaman yang semakin hari penuh dengan persaingan, siapa yang maju maka dialah yang menang dan berkuasa. Oleh karena itu lembaga sekolah dituntut untuk selalu mengembangkan segala bidang yang ada, tidak lain kurikulum itu sendiri. Sekolah harus bertanggung jawab atas hal itu semua. Pembentukan kurikulum yang ideal dan aktual sangat dibutuhkan para siswa dalam menghadapi tantangan yang telah disebutkan di atas, tidak lain agar mereka semua bisa mengimbangi kemajuan zaman dengan kemajuan intelektual.

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat diambil suatu rumusan masalah sebagaimana berikut:

  1. Apa pengertian kurikulum ideal dan kurikulum aktual?

Bagaimana membentuk kurikulum yang ideal dan aktual?

Bagaimana menerapkan kurikulum ideal dan aktual dalam proses pembelajaran?

1.3. Batasan Masalah

Dalam penulisan makalah ini kami membatasi permasalahan dengan tiga poin penting, antara lain sebagai berikut:

  1. Definisi dan karakteristik kurikulum ideal dan kurikulum aktual.

Landasan perencanaan kurikulum ideal dan aktual beserta implikasinya.

Tahap-tahap implementasi kurikulum ideal dan kurikulum aktual.

1.4. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini tidak lain adalah untuk mengetahui pengertian dari kurikulum ideal dan kurikulum aktual, landasan perencanaannya, dan implementasinya. Hal ini juga bertujuan agar kita semua bisa menambah wawasan tentang dunia pendidikan.

1.5. Manfaat Penulisan

Dari pengetahuan konsep kurikulum ideal dan aktual yang ada di makalah ini diharapkan nantinya bisa bermanfaat untuk para calon guru yang sehari-harinya selalu bergelut dengan kurikulum dan dunia pendidikan. Sehingga nantinya kalau benar-benar menjadi guru, mereka tidak canggung dan minder dalam menangani masalah kurikulum. Untuk para pembaca yang suka dengan wacana pendidikan diharapkan sekelumit isi makalah ini bisa menambah wawasan tentang masalah-masalah yang ada dalam dunia pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi Kurikulum Ideal dan Kurikulum Aktual

Ideal curriculum atau kurikulum ideal adalah kurikulum yang berisi sesuatu yang baik, yang diharapkan atau dicita-citakan sebagaimana dimuat dalam buku kurikulum. Real Curriculum, Actual Curriculum atau kurikulum aktual adalah apa yang terlaksana dalam proses belajar mengajar atau yang menjadi kenyataan dalam kurikulum yang direncanakan atau terprogram dalam pendidikan. Kurikulum Aktual sebaiknya sama dengan kurikulum ideal, atau setidak-tidaknya mendekati kurikulum ideal walaupun tidak mungkin atau tidak pernah sama dalam kenyataannya.

Para ahli kurikulum menganggap perlu adanya sejumlah kriteria yang digunakan sebagai pedoman, patokan, dan ukuran dua macam kurikulum tersebut. Caswell dan Campbell telah merumuskan beberapa kriteria sebagai berikut:

  1. Kegunaan isi kurikulum dalam menafsirkan, memahami dan menilai kehidupan yang kontemporer.

Kegunaan isi kurikulum dalam memuaskan minat dan kebutuhan para siswa.

Nilai isi kurikulum dalam mengembangkan kemampuan, sikap dan sebagainya yang dipandang bermanfaat bagi orang dewasa.

Isi kurikulum hendaknya signifikan bagi bidang mata pelajaran tertentu.

Dalam hal ini Romine mengkaji dari sudut pandang yang lebih luas, sesungguhnya penentuan kriteria tersebut hendaknya bertitik tolak dari aspek tujuan pendidikan, proses pendidikan, dan keadaan para siswa itu sendiri. Berdasarkan faktor-faktor tersebut dia merumuskan sejumlah kriteria sebagai berikut:

1. Kriteria yang berhubungan dengan sifat para siswa, yaitu apakah isi kurikulum di dalamnya berguna dalam memuaskan minat dan keingintahuan siswa.

2. Kriteria yang berhubungan dengan tujuan pendidikan

  1. Apakah isi kurikulum di dalamnya signifikan, valid, dan berguna dalam menafsirkan, memahami,, dan menilai kehidupan yang kontemporer.

Apakah isi kurikulum di dalamnya berhubungan dengan masalah-masalah kehidupan.

Apakah isi kurikulum di dalamnya akan memajukan perkembangan dan pertumbuhan yang seimbang pada anak-anak, sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan (sikap, kemampuan, kebiasaan, dan sebagainya).

Apakah isi kurikulum di dalamnya memang penting, dalam artian memberikan sumbangan yang berharga pada berbagai peran kurikulum (konservatif, evaluatif, kreatif, dan sebagainya) serta bermakna bagi pengalaman manusia.

2.2. Landasan Kurikulum Ideal dan Aktual

Pendidikan merupakan suatu proses sosial, karena berfungsi memasyarakatkan anak didik melalui proses sosialisasi di dalam masyarakat tertentu. Sekolah, sebagai salah satu institusi pendidikan berperan juga sebagai institusi sosial, karena melalui lembaga tersebut anak dipersiapkan untuk mampu terjun dan aktif dalam kehidupan masyarakatnya kelak.

Anak-nak berasal dari masyarakat, dan mereka belajar tentang cara hidup dalam bermasyarakat. Oleh ,karena itu, sekolah harus bekerjsama dengan masyarakat, dan program sekolah harus disusun dan diarahkan oleh masyarakat yang menunjang sekolah tersebut. Program pendidikan disusun dan dipengaruhi oleh nilai, masalah, kebutuhan, dan tantangan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu kurikulum yang ideal dan dan aktual harus disusun berlandaskan dasar sosiologis agar tercipta keseimbangan diantara keduanya dan terciptalah tujuan pendidikan yang sebenarnya.

2.2.1. Kebutuhan Masyarakat dan Kekuatan Sosial

Pada dasarnya, pendidikan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum harus berdasarkan pada kebutuhan masyarakat dan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kurikulum yang demikianlah disebut sebagai kurikulum yang relevan (ideal dan aktual) dengan masyarakat. Dibalik itu, masyarakat merupakan lingkungan pendidikan, dalam artian suatu lingkunagn yang mempengaruhi sekolah dan sebaliknya, sekolah mempengaruhi kehidupann masyarakat. Hal ini sejalan dengan prinsip ekosistem.

Apabila kebutuhan masyarakat dianalisis, hal ini akan sangat membantu para penyusun kurikulum dalam merumuskan masalah masyarakat yang terkait dalam pemilihan dan penyusunan bahan-bahan dan pengalaman-pengalaman kurikuler. Dalam pengembangan kurikulum agar menjadi ideal dan aktual perlu dipertimbangkan berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat, hal ini berguna untuk:

  1. Mengorientasikan kurikulum pada pusat-pusat kehidupan.

Membantu merumuskan falsafah dan tujuan pendidikan.

Merangsang minat murid dan mengusahakan kegiatan belajar menjadi lebih luas.

Melengkapi dasar pengembangan unit-unit pelajaran.

Melengkapi proyek kerjasama sekolah dan masyarakat, ketika para siswa dapat berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat.

Adapun kekuatan sosial yang mempengaruhi kurikulum ada beraneka ragam. James W. Thornthon dan John R. Wright, dalam bukunya “Secondary School Curriculum”, mengklasifikasikan berbagai kekuatan sosial yang mempengaruhi kurikulum, diantaranya:

  1. Kekuatan sosial yang resmi, terdiri atas 1) Pemerintah suatu Negara, melalui UUD, dasar Negara, falsafah dan ideologi Negara, 2) Pemerintah daerah, melalui berbagai kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan, 3) Pewakilan Departemen Pendidikan setempat.

Kekuatan sosial setempat, yang terdiri atas: Yayasan pendidikan, Perguruan Tinggi, persatuan orang tua murid dan Guru, penerbit buku-buku pelajaran, media masa (televisi, radio, Koran), dan adat kebiasaan masyarakat setempat.

Organisasi professional, seperti persatuan guru, persautan dokter, dan ahli hukum.

Tentu saja masih banyak kekuatan sosial lainnya yang ikut mempengaruhi pengembangan dan pembinaan kurikulum. Setiap kekuatan sosial tersebut berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pengaruh secara maksimal.

2.2.2. Perubahan Sosio-Kultural

Peradaban dengan masyarakat itu selalu bersifat konsisten. Peradaban merupakan jelmaan tingkah laku masyarakat, jadi peradaban menunjukkan karakteristik masyarakat. Demikian pula sebaliknya, peradaban menentukan pola kehidupan, struktur, fungsi, dan irama gerak masyarakat. Dapat dikatakan peradaban itu berkembang secara kontinu. Arnold Toynbe mengatakan bahwa “Kebudayaan sebagai suatu keseluruhan mengalami proses lahir, berkembang, tumbang dan akhirnya hancur”. Dalam tahap lahir dan berkembangnya, kebudayaan memiliki cukup akal dan kekuatan untuk menanggulangi berbagai tantangan alam dan kemasyarakatan yang dijumpainya. Sebaliknya kebudayaan berada dalam tahap tumbang dan kehancuran jika tidak lagi mempunyai cukup akal dan kekuatan untuk mengatasi berbagai kesukaran yang dihadapkan kepadanya.

Perubahan yang kedua adalah perubahan dalam masyarakat. Masyarakat merupakan suatu proses yang senantiasa berada dalam perubahan. Tidak pernah ada masyarakat yang seratus persen statis, meskipun itu masyarakat primitif. Perbedaannya hanya terletak pada cepat atau lambatnya perubahan berlangsung, bergantung pula pada perbedaan waktu saat perubahan itu terjadi. Pada hakikatnya, yang dimaksud dengan perubahan sosial merupakan kesinambungan yang terjadi pada hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat yang telah ada. Perubahan kesinambungan ini terjadi baik secara menyeluruh maupun pada unsur atau bagian masyarakat tersebut.

Dari adanya dua hal perubahan di atas maka dirasa perlu bagi kurikulum untuk selalu mengimbanginya. Faktor sosial budaya sangat penting dalam penyusunan kurikulum yang ideal dan aktual, karena kurikulum merupakan alat untuk merealisasikan sistem pendidikan, sebagai salah satu dimensi dari kebudayaan.

2.3. Implementasi Kurikulum Ideal dan Aktual

Implemnetasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan, sambil senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional, serta fisiknya.

Adapun tahapan implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi.

    1. Pengembangan program mencakup program tahunan, semester, bulanan, mingguan, dan harian. Selain itu ada juga program bimbingan dan konseling atau program remedial.

Pelasanaan pembelajaran. Pada hakikatnya, pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik tersebut.

Evaluasi proses yang dilaksanakan sepanjang proses pelaksanaan kurikulum semester serta penilaian akhir formatif dan sumatif mencakup penilaian keseluruhan secara utuh untuk keperluan evaluasi pelaksaaan kurikulum.

Dengan tahap-tahap tersebut akan tercapai tujuan-tujuan kegiatan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Hal itu secara otomatis akan meningkatkan pemanfaatan dan penerapan kurikulum baik yang ideal maupun aktual.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Dari penjabaran di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa pembuatan kurikulum ideal dan kurikulum aktual di sekolah sangatlah penting. Dengan dua bentuk kurikulum tersebut proses pembelajaran akan lebih terarah, agenda-agenda sekolah jelas dan akan tercapainya segala tujuan yang dikehendaki. Perbedaan sekolah yang mempunyai dua bentuk kurikulum tersebut dengan yang tidak mempunyai akan terlihat jelas dalam segala aspek yang dilaksanakan. Hal itu juga akan berdampak pada kemajuan dan perkembangan sekolah itu sendiri. Oleh karena itu, bagi sekolah yang mempunyai pasti lembaganya berkembang dan maju baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Dalam pembuatan dan perencanaan kurikulum ideal dan aktual perlu adanya landasan dasar. Landasan itu sangat berpengaruh besar terhadap proses pelaksanaan seluruh program di sekolah. Landasan dasar tersebut adalah:

  1. Kebutuhan masyrakat dan kekuatan social

Perubahan sosio kultural.

Sekolah sebagai institusi pendidikan dan sosial memang didirikan dan diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat. Sehingga sekolah harus bisa memenuhi segala kebutuhan masyarakat yang ada.

Di dalam masyarakat juga terdapat beragam lembaga sosial yang masing-masing memiliki kekuatan, baik kekuatan potensional, strategis dan riil. Semua kekuatan tersebut memberi pengaruh dan patut dipertimbangkan dalam pembinaan dan pengembangan kurikulum. Sehingga kurikulum berjalan dengan sifat dinamis dalam masyarakat.

Adanya perubahan masyarakat baik peradaban maupun sistemnya, maka kurikulum harus bisa mengimbanginya. Keseimbangan harus dilakukan tanpa ada harga tawar karena pada hakikatnta masyarakat selalu ingin maju dan berkembang dari yang sebelumnya.

Oleh karena itulah dua hal tersebut menjadi patokan dalam pembuatan kurikulum ideal dan aktual. Apabila tidak melihatnya dapat dipastikan kurikulum tidak bisa relevan bagi para siswa karena siswa sendiri adalah bagian dari masyarakat.

3.2. Saran

Bagi lembaga sekolah yang belum mempunyai dua bentuk kurikulum ini (ideal dan aktual) sebaiknya segera membuat dan merencanakannya. Apabila sekolah ingin maju, maka pekerjaan tersebut sangatlah penting untuk dilakasanakan. Perencanan kurikulum harus dilaksanakan dengan tahapan-tahapan yang benar agar semuanya sesuai dengan prosedur yang ada dan nantinya punya dampak positif bagi semua civitas sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Omar, Prof. Dr. H., Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT. Rosda Karya, 2008

________________, Model-Model Pengembangan Kurikulum, Bandung: PPS UPI, 2007

Ibrahim R., Pelaksanaan Hasil-Hasil Inovasi Dalam Bidang Pendidikan, Makalah Seminar, Surabaya, 2009

Sidi, Indra Jati, Menuju Masyarakat Belajar, Jakarta: Paramadinata, 2001

Sukmadinata, Nana S., Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000

About these ads
Komentar
  1. abdulhakimmuh mengatakan:

    jelas beda… sekarang sudah zamannya profesionalitas
    pasti di setiap jenjang pendidikan, baik itu formal maupun non formal pasti mempunyai kurikulum sendiri-sendiri di setiap jenjangnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s