TERGESERNYA NILAI-NILAI PENDIDIKAN INDONESIA

Bila kita teliti secara jeli makna pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin tidak terarah. Sebagaimana tertuang dalam UU SISDIKNAS 2003, bahwas makna pendidikan di Indonesia adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan prose pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Enam tujuan pokok dan makna di atas haruslah dipahami oleh semua guru atau pendidik dan semua orang yang bergelut di dunia pendidikan.
Indikasi tidak terarahnya tujuan pendidikan adalah: pertama, munculnya RSBI (Rintisan sekolah bertaraf internasional). Banyak dari sekolah ternama yang notabenenya negeri dan sebagian swasta menginginkan sekolahnya menjadi sekolah bertaraf internasional. Apabila dilihat secara kasat mata, memang di SBI adalah sekolah maju, sarana dan prasarananya lengkap, semua alat menggunakan teknologi, tetapi dibalik itu semua menyimpan suatu kesalahan yakni adanya kurikulum dari luar negeri yang harus dimasukkan. Hal ini menandakan bahwa anak didik Indonesia sedikit demi sedikit dimasuki budaya luar yang kurang jelas tersebut. Fenomena yang sangat luar biasa adalah anak didik Indonesia suka akan mata pelajaran kurikulum tersebut. Seakan-akan budaya luar tersebut menghipnotis anak-anak indonesia dengan nilai-nilainya yang bebas, etika yang kurang, dan prospeknya yang menjanjikan untuk dunia internasional.
Indikasi kedua adalah sudah pudarnya sekolah-sekolah menerapkan kurikulum yang di dalamnya memuat kearifan budaya lokal. Sebagaimana tertuang di UU SISDIKNAS bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah mempunyai keterampilan masyarakat sekitar. Sedikitnya sekolah yang memuat muatan lokal budaya masyarakat sekitarnya menjadikan siswa buta dengan keadaan lingkungannya. Keadaan ini akhirnya berdampak pada keperibadian siswa yang tidak mau tahu dengan kondisi lingkungan, mereka akan berfikir bagaiman bisa keluar dari desa atau lingkungan untuk mendapat hal-hal yang baru. Ini dikarenakan mereka semua tidak tahan dengan potensi yang ada di lingkungannya kemudian terjadilah transmigrasi yang tidak terarah. Banyak desa-desa yang mati karena ditinggal oleh orang-orang yang berilmu. Pada aslinya mereka bisa menjadikan lingkungannya baik. Dengan hilangnya budaya kearaifan lokal yang penulis sebut di atas, mereka menjadi seperti itu.
Dua indikasi tersebut, menurut hemat penulis merupakan penyebab tergesernya nilai-nilai pendidikan di Indonesia. Kita ambil contoh: adanya bentrokan antar siswa, hilangnya siswi-siwi korban facebook yang merajalela tak terbatas, dan moral siswa yang kurang baik (tidak mulia). Memang semuanya ini tidak lepas dari dampak globalisai. Dunia-dunia berkembang dituntuk untuk selalu memajukan semua bidang, tak terkeculai bidang pendidikan itu sendiri. Globalisai tersebut seringkali tidak difahami secara betul oleh penduduk Indonesia, para pendidik atau akademisi, sehingga mereka melewatinya dengan kekalahan dan keterpuruykan.
Oleh karena itu demi tercapainya tujuan pendidikan indonesia, perlu adanya pengawasan yang jeli terhadap semua hal baru yang masuk ke dalam pendidikan. Pensterilan kurikulum dari luar harus dipadukan dengan kurikulum lokal dan budaya-budaya yang ada di sekitarnya. Dengan itu siswa akan bisa mengerti budaya sekitar ditambah dengan pengalaman-pengalaman baru yang juga penting demi majunya masyarakat dan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s