Sabar Sebagai Kunci Sukses Dalam Kehidupan

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. An-Nahl [16]: 126)

Dalam al-Qur’an, kata sabar dengan segala penggunaannya disebut kurang lebih sebanyak 103 kali. Dari penyebutan yang banyak itu dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa sabar adalah sesuatu yang penting. Bahkan sabar merupakan kunci sukses dalam hidup. Hal ini sesuai dengan pepatah Arab: “man shobaro dhofaro” yang berarti siapa yang bersabar, maka ia akan sukses.
Menurut Imam Ghazali, manusia memiliki dua dimensi kepribadian, yaitu 1) al-Bu’dul Malakuti atau dimensi kemalaikatan, yaitu sisi kebaikan yang ada dalam diri manusia. Dimensi ini mendorong kita untuk berbuat baik yang membuat pemiliknya, misalnya sangat sensitif sekaligus responsif atas penderitaan orang lain dan siap membantunya. Dimensi ini membawa manusia menjadi dekat dengan Allah dan dapat melindungi diri dari hal-hal yang membawa petaka dan kerugian. Dimensi 2) adalah al-Bu’dul Bahumi atau dimensi kebinatangan, yaitu sisi buruk dalam diri manusia. Dimensi ini mendorong manusia berbuat buruk dan dimensi ini yang membuka bagi masuknya setan dalam diri manusia. Perlu diketahui bahwa sebenarnya setan tidak bisa menyesatkan hamba-hamba Allah kecuali mereka yang membuka dimensi kedua ini. Dan dimensi kedua ini, oleh Imam Ghozali disebut sebagai madakhil as-syaitan (pinu gerbang masuknya setan).

Antara kedua dimensi itu selalu konflik dan mengobarkan serta terus menerus menyulut permusuhan (pertempuran abadi) yang dalam Islam disebut dengan jihad akbar. Jihad besar justru bukan melawan orang lain tapi melawan bagian dari diri kita sendiri. Bila dimensi pertama tidak kuat, maka akan dikalahkan dengan dimensi kedua. Nah salah satu senjata yang dapat menopang dan menguatkan manusia untuk memenangkan pertarungan tersebut adalah sabar. Hal ini seperti tersebut dalam QS. Al-Baqarah [2]: 45 :
واستعينوا بالصبر والصلوة وإنها لكبيرة إلا على الخاشعين.
Keampuhan sabar dalam menunjang kesuksesan orang sudah dibuktikan oleh psikologi modern. Dalam buku emotional Intelligence karya Daniel Goldman disebutkan bahwa yang menentukan sukses tidaknya seseorang bukanlah kecerdasan intelektual, tapi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional diukur dari kemampuan manusia mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri itu disebut sabar, sehingga orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi kecerdasan emosionalnya. Pendapat Goldman ini sesuai juga dengan pendapat Doktor Salih Ngudaimah –penulis buku Mustalahat Qur’aniyyah- yang menyatakan bahwa kebanyakan pelanggaran (maksiat) yang dilakukan seseorang itu karena dua hal, yaitu kurang sabar dalam hal-hal yang dicintainya dan kurang sabar dalam hal-hal yang tidak disukainya.
Oleh karena itu, sabar diharuskan pada seluruh keadaan dan situasi yang dihadapi manusia. Diantara sekian keadaan dan situasi itu, dalam al-Qur’an ditemukan perintah bersabar dalam beberapa keadaan:
1. Dalam menanti ketetapan Allah (QS. Yunus: 109)
2. Menanti datangnya janji atau hari kemenangan (QS. Ar-Rum: 60)
3. Menghadapi ejekan (gangguan) orang-orang yang tidak percaya (QS. Thaha: 130)
4. Menghadapi kehendak nafsu untuk melakukan pembalasan yang tidak setimpal (QS. An-Nahl: 127)
5. Dalam melaksanakan ibadah (QS. Maryam: 65, dan Thaha: 132)
6. Dalam mengahadapi malapetaka (QS. Luqman: 17)
7. Dalam usaha memperoleh apa-pa yang dibutuhkan (QS. Al-Baqarah: 153)

Dari beberapa konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa ada tiga jenis sabar, yaitu: sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam melakukan ibadah, dan sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat. Pada sisi lain, al-Qur’an menekankan sabar dalam tiga hal, 1) dalam usaha mencapai apa yang dibutuhkan, 2) dalam menghadapi malapetaka, 3) dalam peperangan dan perjuangan.

Waktu dan Rintangan Ber-Sabar

Ada yang salah dalam praktek keseharian dan menyebutnya dengan sabar ketika berlalunya sebuah peristiwa. Lalu kapan waktunya bersabar itu ?. Sabar dibutuhkan pada waktu sebelum, sedang dan sesudah berbuat atau bersikap. Sabar pada sebelum dan awal perbuatan yaitu upaya untuk meluruskan niat dan mengukuhkan tekad serta merancang perbuatan. Sabar sedang atau beserta perbuatan adalah sebuah harapan hingga tercapai dengan sempurna dan sukses perbuatan tersebut. Atau agar tidak melalaikan Allah dan tidak malas untuk menetapi pelaksanaan peraturan hingga tuntas. Selalu sabar melawan kelemahan, kekesalan dan kejenuhan. Dan sabar setelah berbuat adalah sabar menjaga amal itu dengan ihlas hingga selamat dari sum’ah dan ujub (sombong).
Sabar merupakan sesuatu yang paling berat dan tidak menyenangkan bagi kita. Karena di dalamnya mengandung hal-hal yang sering kali belawanan dengan sifat kebinatangan kita. Salah satu dari sekian sebab gagalnya seseorang dalam menjaga dan mempertahankan sabar adalah rasa pesimisme dan kekurangan yakin akan balasan dan janji Allah. Abu Thalib Al-Makki dalam kitabnya Quwwatul Qulub menjelaskan bahwa: “orang yang paling baik sabarnya ketika tertimpa musibah adalah mereka yang paling banyak yaqinnya dan kebanyakan manusia yang suka mengeluh dan dendam dalam menerima musibah adalah mereka yang sedikit keyakinannya”. Ia juga menegaskan bahwa:…… sabar merupakan penyebab masuk surga dan penyelamat dari siksa neraka, karena Rasulullah SAW bersabda; surga diliputi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan dan neraka diliputi nafsu syahwat. Dan ketahuilah bahwa kebanyakan maksiat yang dilakukan manusia disebabkan oleh dua faktor; kurang sabar dalam hal-hal yang disenangi dan kurang sabar dalam hal-hal yang tidak disenangi. Beratnya sabar juga karena dalam sabar harus disertai syukur, Nabi bersabda: Iman itu setengahnya adalah kesabaran dan setengahnya lagi adalah syukur. Karena itu, jika ada orang yang bersyukur tetapi tidak bisa bersabar maka imannya tidak sempurna.
Saking beratnya itu, sahabat Ali karramahullahu Wajhah menjadikan sabar sebagai salah satu rukun iman. Ia berkata bahwa Islam dibangun dengan empat tiang (pondasi): Yakin, sabar, jihad, dan adil. Karena itulah Allah menyediakan tiga pahala bagi mereka yang sabar, yakni: kesejahteraan di dunia dan akhirat, rahmat dan kasih sayang Allah, dan petunjuk dalam menghadapi berbagai kesulitan yang dihadapi (QS. Al Baqarah: 155-157). Disamping itu antara lain; memperoleh pahala lebih baik, memperoleh derajat kepemimpinan, mendapat lindungan Allah dari tipu daya dan lain-lain.
Hanya orang sabar yang akan sukses dalam perjalanan hidupnya. Karena itu Sahabat Ali karramahullahu Wajhah berkata: Allah menyayangi seseorang yang memeprgunakan kesabarannya sebagai kendaraanmya dan taqwa sebagai bekal kematiannya. Sabar juga menjadi salah satu alat uji bagi manusia, dengan sabar akan diketahui siapa yang betul-betul beriman. Sabar mendidik kaum beriman mengasah permata iman dan menjernihkan hatinya dan dapat meningkatkan posisi di mata Allah. Oleh karena itu, sabar harus terus menerus ditingkatkan.

Kiat Untuk Bersabar
Ada beberapa kiat atau tips agar kita selalu bisa sabar, yaitu: 1) memahami arti kehidupan dunia dengan sebenarnya, 2) menyadari eksistensi diri, 3) keyakinan akan pahala yang lebih baik, 4) keyakinan akan terbebas dari musibah, 5) meneladani orang-orang yang sabar, 6) berhati-hati terhadap kendala-kendala kesabaran antara lain; tergesa-gesa, ma

rah-marah, rasa susah, sedih yang mendalam, dan putus asa.
Demikian, semoga kita selalu bersabar setiap saat dan pada kondisi apapun….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s