Etika Bertetangga dan Pembentukan Masyarakat yang Sejahtera

Mengabdilah kepada Allah dan jangan mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga orang yang asing, teman yang di sampingmu, dan orang dalam perjalanan, dan yang menjadi milik tangan kananmu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang congkak dan membanggakan diri.
(QS. An-Nisa’ [4] : 3)

Ayat tersebut menjelaskan tentang beberapa perintah Allah kepada manusia secara vertikal; hubungannya dengan Allah dan secara horizontal; hubungannya dengan manusia. Perintah yang bersifat vertikal yang disebut dalam ayat adalah beribadah menyembah Allah dan tidak musyrik. Sedangkan perintah yang bersifat horizontal meliputi; berbuat baik kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan jauh, teman sejawat (baik dalam perjalanan maupun dalam kehidupan sehari-hari, seperti istri dan siapapun yang selalu menyertai seseorang di rumahnya, termasuk para pembantu rumah tangga), ibnu sabil (seperti anak-anak jalanan dan orang yang habis bekalnya, sedang ia masih dalam perjalanan) dan hamba sahaya.
Dari sekian perintah yang bersifat horizontal itu, salah satu diantaranya yang sering mendapat tekanan dari Nabi adalah berkaitan dengan tetangga. Dalam satu sabdanya, beliau menegaskan bahwa; Jibril senantiasa berpesan padaku tentang tetangga, sehingga aku mengira tetangga itu akan diberi hak waris (HR. Bukhori-Muslim).
Allah meletakkan kewajiban berbuat baik kepada tetangga sejajar dengan berbuat baik kepada orang tua, kerabat dan lainnya. Dengan demikian fenomena bertetangga, kebaikan dan keburukan bergaul dengannya berbanding lurus dengan tingkat keimanan seseorang. Sehingga mu’min yang baik adalah mu’min yang baik terhadap tetangganya dan juga sebaliknya. Kesejatian iman seseorang bisa diukur dari bagaimana memperlakukan tetangganya. Banyak hadis Nabi yang menjelaskan demikian, diantaranya; “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka ia memperlakukan tetangganya dengan baik…”. (HR. Muttafaq ‘alaih). Oleh karena itu, mu’min dan muslim sejati adalah orang yamg menjadi tetangga terbaik bagi para tetangganya. Bahkan ketetapan seseorang di surga atau di neraka juga tak terlepas dari peran dia dalam bertetangga. Nabi bersabda; “Orang yang kejahatannya membuat tetangganya tidak merasa aman, maka tidak akan masuk surga”. (HR. Muslim)

Tetangga yang baik dan tetangga yang buruk

Berbuat baik kepada tetangga adalah sifat keutamaan sosial kemasayarakatan setelah seseorang berbuat baik terhadap diri dan keluarganya dan merupakan petunjuk ke-imanan sejati seseorang. Apabila hal ini sudah terpenuhi maka kesejahteraan dan ketentraman masayarakat luas akan terwujud. Karena tetangga adalah lingkup terkecil dalam struktur masyarakat.
Tetangga yang baik diantaranya adalah orang yang selalu menjaga perasaan tetangganya, baik bersifat materil-fisik seperti makanan dan harta benda maupun psikologis seperti membuka pintu perhatian, persahabatan, dan kemurahan hati yang lebar. Karena itu nabi bersabda: “Bukan termasuk orang yang percaya kepadaku, orang yang makan kenyang sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan, dan ia mengetahui hal tersebut”. Berkaitan dengan ini ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa yang menjadi faktor peyebab diujinya Ya’qub adalah ketika berkumpul untuk makan bersama anak-anaknya, sambil ketawa riang, sementara tetangganya yang yatim dan merasakan aroma bau makanan yang disantap, keluarga Ya’qub tersebut tidak memberi sepotong apapun kepada tetangganya. Karena itu, Ya’qub diberi cobaan oleh Allah dengan menangis hingga menyebankan buta kedua matanya.
Tetangga yang baik adalah yang kehadirannya menjadi sebuah sumber kenyamanan, kedamaian dan rasa aman. Nabi menggambarkan bahwa; “Di antara hal-hal yang membawa kebahagiaan bagi seorang Muslim dalam kehidupan ini adalah seorang tetangga yang sholeh, sebuah rumah yang lapang dan perbuatan baik” (HR. Muslim).
Berkenaan denagn tetangga yang jahat, banyak hadits yang menjelaskan bahwa perbuatan baiknya tidak akan diterima dan merupakan salah satu dari tiga tipe orang yang malang. Pernah dilaporkan kepada Rasulullah tentang keberadaan seorang wanita yang amat rajin puasa di siang harinya, menegakkan salat di malam harinya, dan memberikan sedekah, hanya sayang, ia gemar mengganggu tetangganya. Komentar Rasul; “Perbuatan baiknya tidak akan bermanfaat dan ia di neraka” (HR. Ahmad). Berbuat jahat kepada tetangga dosanya berlipat dibanding berbuat jahat yang sama kepada selain tetangga. Apabila memiliki tetangga yang jahat atau tidak baik, maka Nabi melarang untuk membalasnya tapi diminta untuk bersabar, kecuali bila terus-menerus.

Macam-macam tetangga

Al-Qur’an menjelaskan bahwa tetangga itu ada dua macam, yaitu tetangga dekat dan tetangga jauh. Tetangga dekat adalah orang yang memilki kedekatan tempat tinggal, kerabat, dan se-agama, sedangkan tetangga jauh adalah orang yang jauh tempat tiggalnya, tidak kerabat dan tidak se-agama.
Beberapa ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada kategori, yaiu 1) tetangga Muslim dan kerabat, 2) tetangga Muslim bukan kerabat dan 3) tetangga non Muslim. Bagi kategori yang nomer pertama sebagai seorang Muslim memilki tiga macam hak. Tiga hak itu adalah a) hak sebagai muslim, diantaranya; mengunjungi yang sakit, megiring jenazahnya, mendoakan yang bersin, mematuhi sumpahnya, menolong yang dianiaya dan menyebarkan salam, b) hak sebagai kerabat, diantaranya senantiasa menyambung silaturrahim dan mendahulukan dalam pemberian shodaqoh, dan  c) hak sebagai tetangga.
Diriwayatkan dari Thabarani dari Mu’adz bin Jabal bahwa sesungguhnya para sahabat bertanya kepada Rasulullah, Ya Rasulullah, apakah hak seorang tetangga kepada tetangganya? Rasulullah menjawab: Bila ia hendak meminta pinjaman, maka pinjamilah. Bila ia minta tolong, maka tolonglah. Bila ia sakit, maka tengoklah. Bila ia membutuhkan sesuatu, berilah. Jika ia fakir, bantulah. Bila ia mendapat keberuntungan, ikutlah bersuka cita. Jika mendapat musibah, ikutlah berduka cita. Jika ia mati, maka antarkan jenazahnya. Dan jangnlah engkau meninggikan bangunanmu yang bisa menghalangi angin ke rumahnya, kecuali dengan izinnya. Dan janganlah kamu mengganggunya dengan aroma masakanmu, kecuali dengan memberinya. Dan bila kau membeli buah-buahan, maka hadialah. Dan bila kamu tak bisa memberikannya maka simpanlah rapat-rapat dan jangan biarkan anakmu lewat dengan membawa buah-buahan itu sehingga menjadikan marah anak tetanggamu.
Di samping pemenuhan hak-hak yang telah disebutkan dalamn hadits di atas, masih ada lagi pemenuhan hak bertetangga yang tersebut dalam berbagai hadits, antara lain:
a) Hak untuk tidak diganggu,
b) Hak untuk dijaga kehormatannya antara lain lewat perilaku; tidak tajassus (memata-matai), tidak membuka aib, tidak ghibah, dan tidak memasuki rumah tanpa izinnya.
c) Hak untuk dimaafkan bila bersalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s