Profil Ki Hajar Dewantoro

Profil Li Hajar Dewantoro

Ki Hajar Dewantara(1889-1959)
Sebagai tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara tidak seperti Ivan Illich atau Rabrindranath Tagore yang sempat mengalami sekolah sebagai siksaan yang harus segera dihindari. Ki Hajar berpandangan bahwa melalui pendidikan akan terbentuk kader yang berpikir, berperasaan dan berjasad merdeka serta percaya akan kemampuan sendiri. Arah pendidikanya bernafaskan kebangsaan dan berlanggam kebudayaan.
Ki Hajar cinta akan kemerdekaan dan bangga atas budaya bangsa sendiri. Hal ini dibuktikannya dengan ditanggalkanya gelar kebangsawanan (Raden Mas), oleh beliau tindakan ini dilatar belakangi keinginan untuk lebih dekat dengan rakyat dari segala lapisan. Dipilihnya bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak terlepas dari strategi untuk melepaskan diri dari penjajah. Adapun logika berfikirnya relatif sederhana yakni apabila rakyat diberi pendidikan yang memadai maka wawasannya semakin luas, dengan demikian keinginan untuk merdeka jiwa dan raganya tentu akan semakin tinggi.
Tokoh peletak dasar pendidikan nasional ini terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, lahir di Yogyakarta pada hari Kamis tanggal 2 Mei 1889. Beliau berasal dari lingkungan keluarga Kraton Yogyakarta. Pendidikan dasarnya diperoleh di ELS (sekolah Belanda) dan setelah lulus ia meneruskan di STOVIA (Sekolah Kedokteran Bumi Putra) di Jakarta tetapi tidak sampai selesai. Kemudian bekerja sebagai wartawan di berbagai surat kabar antara lain Sedya Tama, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer Dan Poesara. Ia tergolong penulis tangguh pada masanya, tulisan-tulisanya sangat tegar dan patriotik serta mampu membangkitkan semangat anti kolonial bagi pembacanya.
Selain menjadi seorang wartawan muda, R.M. Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik, ini terbukti pada tahun 1908 dia aktif di Boedi Oetama dan mendapat tugas yang cukup menantang di seksi propa ganda. Setelah itu pada tanggal 25 Desember 1912 dia mendirikan Indische Partij yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Organisasi ini didirikan bersamaan dengan Dr. Duwes Dekker dan Dr. Cipto Mangoenkoesoemo. Organisasi ini berusaha didaftarkan status badan hukumnya pada pemerintahan kolonial Belanda tapi ditolak karena organisasi ini dianggap oleh penjajah saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan yang menentang pemerintahan kolonial Belanda.
Keras tapi tidak kasar inilah ciri khas kepribadian Ki Hajar yang diakui rekan-rekan sejawatnya, kesetiaan pada sikapnya ini terlihat jelas pada setiap kiprahnya. Ketika partainya Indische Partij (IP) diberedel pemerintah Belanda (1912) dia tidak putus asa, kritik pedas kepada penjajah juga dilancarkan lewat artikelnya dalam de express November 1913 berjudul Als Ik Eens Nederlender Was (seandainya saya orang Belanda) dengan sindiran tajam tulisan itu menyatakan rasa malunya merayakan hari kemerdekaan nengirinya dengan memungut uang dari rakyat Hindia yang terjajah. Soewardi bahkan mengirim telegram pada ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 RR (Regerings Reglement-UU pemerintahan negeri jajahan) yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda. Karuan saja akibat tulisan itu Ki Hajar dibuang ke Belanda pada Oktober 1914 padahal dia baru saja mempersunting R.A. Sutartinah, oleh karena itu dia harus bulan madu di pengasingan.
Dalam masa pembuangan itu tidak dia sia-siakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga berhasil memperoleh Europesche Akte. Setelah kembali ke tanah air di tahun 1918, ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Diwujudkan bersama rekan-rekannya dengan mendirikan Nasional Onderwijs Instituut Taman Siswa atau dikenal dengan Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922, sebuah perguruan yang bercorak nasional. Lembaga ini mencoba memadukan model pendidikan barat dengan budaya negeri sendiri. Namun, kurikulum pemerintahan Belanda tidak diajukan, karena garis perjuangan Ki Hajar bersifat non-kooperasi terhadap pemerintahan kolonial.
Sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan pendiri taman siswa, Ki Hajar memang tidak sendirian berjuang menanamkan jiwa merdeka bagi rakyat melalui bidang pendidikan, namun telah diakui dunia bahwa kecerdasan, keteladanan, dan kepemimpinannya telah menghantarkan dia sebagai seorang yang berhasil meletakkan dasar pendidikan nasional Indonesia. Oleh karena itu tanggal kelahirannya oleh bangsa Indonesia dijadikan Hari Pendidikan Nasional, selain itu melalui surat keputusan Presiden RI no. 395 tahun 1959, tanggal 28 November 1950 Ki Hajar ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional. Penghargaan lainnya yang diterima oeh Ki Hajar Dewantara adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada di tahun 1957.
Ki Hajar juga tidak lupa membuat semboyan pendidikan nasional, dengan semboyan ini diharapkan masyarakat bisa mengingat selalu apa arti pendidikan. Semboyan pendidikan itu adalah ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah menghidupkan gairah, di belakang memberi pengarahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s