KONSEP PENDIDIKAN AL-GHOZALI BERDASARKAN AL-QUR’AN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang selanjutnya dijadikan pedoman hidup (way of life) kaum muslim yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Di dalamnya terkandung ajaran-ajaran pokok (prinsip dasar) yang menyangkut segala aspek kehidupan manusia yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan nalar masing-masing bangsa dan kapanpun masanya dan hadir secara fungsional memecahkan problem kemanusiaan. Salah satu permasalahan yang tidak sepi dari perbincangan umat adalah masalah pendidikan. Dalam al-Qur’an sendiri telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangat penting, jika al-Qur’an dikaji lebih mendalam maka kita akan menemukan beberapa prinsip dasar pendidikan, yang selanjutnya bisa kita jadikan inspirasi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu.
Pendidikan dalam perjalanannya selalu berusaha mencari format untuk dapat mencapai tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia. Banyak tokoh pendidikan berusaha menawarkan format pendidikan menurut pemahaman mereka mengenai pendidikan itu sendiri, tujuan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan. Banyak sekali tokoh dan pemikir Islam yang mampu merubah dunia. Di antara sekian tokoh pemikir tersebut, al-Ghozali menjadi tokoh yang paling menarik untuk diperbincangkan. Al-Ghozali adalah sosok pengembara intelektual. Hampir seluruh hidupnya beliau curahkan dalam pengembaraan intelektual. Dalam ranah keilmuan Islam al-Ghozali mendapat gelar Hujjah al-Islam, ‘Alim al-‘Ulama, Warits al-Anbiya. Sebuah bukti pengakuan atas kapasitas keilmuan dan tingkat penerimaan para ulama’ terhadapnya. Selain Imam Al-Ghozali, John Dewey adalah sebagai salah seorang tokoh pendidikan berkebangsaan Amerika yang menawarkan tentang pola pendidikan partisipatif yang bertujuan untuk lebih memberdayakan peserta didik dalam jalannya proses pendidikan.

1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep pendidikan menurut Imam Al-Ghozali yang berlandaskan al-Qur’an?
2. Bagaimana konsep pendidikan menurut pemikiran John Dewey?
3. Bagaimana komparasi konsep pendidikan imam al-Ghozali dengan konsep John Dewey?

1.3. Tujuan Rumusan Masalah
1. Agar mengetahui bagaimana konsep pendidikan menurut Imam al-Ghozali yang berlandaskan al-Qur’an.
2. Agar mengetahui bagaimana konsep pendidikan menurut John Dewey.
3. Agar memahami hubungan pemikiran pendidikan imam al-ghozali dengan pemikiran John Dewey.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep Pendidikan Al-Ghozali Berlandaskan Al-Qur’an
2.1.1. Riwayat Hidup Imam Al-Ghozali
Nama lengkap Al-Ghazali adalah Muhammad bin Muhammad, mendapat gelar Imam besar Abu Hamid Hujjatul Islam yang dilahirkan pada tahun 450 H/ 1085 M, di suatu kampung Ghazalah, Thusia, suatu kota di Khurasan, Persia. Ia keturanan Persia dan mempunyai hubungan keluarga dengan raja-raja saljuk yang memerintah daerah Khurasan, Jibal, Irak, Persia, dan Ahwaj. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha mandiri, bertenun kain bulu dan ia sering kali mengunjungi rumah ‘Alim ulama, menuntut ilmu dan berbuat jasa kepada mereka. Ayah al-Ghazali sering berdo’a kepada Allah agar diberikan anak yang pandai dan berilmu. Akan tetapi belum sempat menyaksikan (menikmati) jawaban Allah atas do’anya, ia meninggal dunia pada saat putra idamannya masih usia anak-anak (Zainuddin:1991:7).
Al-Ghazali mempunyai seorang adik yang bernama Ahmad, keduanya menjadi ulama besar dan pengagum serta pecinta ilmu. Berkat bantuan seorang sufi sederhana dengan sedikit harta yang diwariskan oleh orang tuannya, al-Ghazali dan saudaranya memasuki Madrasah Tingkat Dasar (Madrasah Ibtidaiyah) dengan memahami ilmu-ilmu dasar. Gurunya yang utama di madrasah itu adalah Yusuf Al-Nassaj, seorang sufi yang kemudian disebut juga dengan nama Imam Al-Haramain, Al-Nassajlah yang pertama kali meletakan dasar-dasar pemikiran sufi pada diri Al-Ghazali (Bahri Ghazali, 2001:24).
Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqih, mantiq, dan ushul. Ia pun mempelajari antara lain: filsafat dari risalah-risalah ikhwanusshofa karangan Al-Farabi dan Ibnu Maskawaih, sehingga melalui ajaran-ajaran ahli filsafat itu, al-Ghazali dapat menyelami faham-faham Aristoteles dan pemikir Yunani yang lain. Ia pun mempelajari ajaran Islam dari imam Syafi’i, Haramlah, Jambad, Al-Muhasibi, dan lain-lain. al-Ghazalipun berguru pada imam Abu Ali Al-Faramzi, murid Al-Qusyairi yang terkenal dan sahabat Al-Subkhi, ia memiliki jasa yang besar dalam mengajar ilmu tasawuf pada al-Ghazali. Suatu ketika, al-Ghazali ikut serta dalam perdebatan dengan sekumpulan ulama dan para intelek yang dihadiri oleh Nidham Al-Mulk. Berkat penguasaan hikmat wawasan ilmu yang luas, kelancaran berbahasa dan kekuatan argumentasinya, al-Ghazali berhasil memenangkan perbedatan ilmiah itu. Kemampuannya itu dikagumi Nizham Al-Mulk, sehingga menteri ini berjanji akan mengangkatnya menjadi guru pada sekolah yang didirikannya di Baghdad. Rangkaian peristiwa yang bersejarah bagi Al-Ghazali ini tejadi pada tahun 484 H, atau 1091 M (Sulaiman, 1993:10).
Al-Ghazali dikenal sebagai tokoh yang agung, mudah mempunyai martabat tinggi dan populer, di samping setiap ucapan dan tulisannya mudah disimak, bahkan pada zamannya tidak ada yang menandinginya. Namun kemasyhuran yang diperolehnya itu ditinggalkan begitu saja oleh Al-Ghazali. Ia keluar dari lingkaran Nazahmiyah menuju Baitullah di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji tepatnya tahun 448 H (Hasan Asy’ari, 1999:21).

2.1.2. Hakikat dan Tujuan Pendidikan Menurut Imam Al-Ghozali
Yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah target yang ingin dicapai dalam suatu proses pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan dapat mempengaruhi performance manusia. Tujuan pendidikan mencakup tiga aspek, yaitu aspek kognitif yang meliputi pembinaan nalar, seperti kecerdasan, kepandaian dan daya pikir; aspek afektif, yang meliputi pembinaan hati, seperti pengembangan rasa, kalbu dan rohani; dan aspek psikomotorik, yaitu pembinaan jasmani, seperti kesehatan badan dan keterampilan.
Al-Ghozali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat pendidikan Islam mengenai tujuan pendidikan. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlaq, dimana fadlilah (keutamaan) dan taqorrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan. Sesuai penegasan beliau: “Manakala seorang ayah menjaga anaknya dari siksaan dunia, hendaknya ia menjaganya dari siksaan api neraka/akhirat, dengan cara medidik dan melatihnya serta mengajarinya dengan mengutamakan akhirat, karena akhlaq yang baik merupakan sifat Rasulullah SAW dan sebaik-baik amal perbuatan orang yaitu orang yang jujur, terpercaya, dan merupakan realisasi dari buahnya ketekunan dekat dengan Allah”. Selanjutnya beliau mengatakan, “Wajiblah bagi seorang guru untuk mengarahkan murid kepada tujuan mempelajari ilmu, yaitu taqorrub kepada Allah bukannya mengarah kepada pimpinan dan kemegahan”. Hal ini sesuai dengan firman Allah surat Al-A’raf ayat 176-177:
    •    •                         *          *
“Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim”. (QS. Al-A’raf: 176-177)
Ayat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah SWT menyatakan bahwa sekiranya Kami menghendaki, pasti Kami menyucikan jiwanya dan meninggikan derajatnya dengannya yakni melalui pengamalannya terhadap ayat-ayat itu, tetapi dia mengekal yakni cenderung menetap terus menerus di dunia menikmati gemerlapnya serta merasa bahagia dan tenang menghadapinya dan menurutkan dengan antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.
Sebab-sebab yang mendorong al-Ghozali sangat memperhatikan tujuan keagaman adalah karena pada waktu itu kerusakan akhlaq orang telah banyak dan merajalela yang ditimbulkan oleh gerakan keagamaan yang merusak seperti gerakan keagamaan yang dipimpin oleh Hasan bin Shabah.
Al-Ghozali secara eksplisit menempatkan dua hal penting sebagai orientasi pendidikan. Pertama, mencapai kesempurnaan manusia untuk secara kualitatif mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua, mencapai kesempurnaan manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Menurut al-Ghozali, kebahagiaan dunia akhirat merupakan sesuatu yang paling esensi bagi manusia. Kebahagiaan dunia dan akhirat memiliki nilai universal, abadi dan lebih hakiki. Sehingga pada akhirnya orientasi kedua akan sinergis bahkan menyatu dengan orientasi pertama. Konsepsi al-Ghozali ini menarik jika dikaitkan dengan konsepsi pendidikan mutakhir.
Al-Ghozali merumuskan orientasi pendidikan secara makro dan berupaya menghindar dari problematika yang bersifat situasional. Sehingga konsepsi al-Ghozali tersebut dapat dikatakan sebagai ujung orientasi yang dapat dijabarkan ke dalam orientasi-orientasi yang lebih spesifik, yakni orientasi (intruksional) umum dan orientasi khusus. Sedangkan sarana pokok untuk mencapai tujuan pendidikan menurut al-Ghozali adalah berupa materi pendidikan. Artinya, anak didik harus disiapkan seperangkat materi (kurikulum) yang siap untuk dipelajari. Di samping itu pendidik juga harus mempunyai metode pengajaran yang dapat mendukung proses belajar secara baik.
Pandangan beliau tentang tujuan dan hakikat pendidikan ini sebenarnya mendapat pengaruh yang luar biasa dari falsafah tasawwufnya. Beliau membagi jenis-jenis ilmu pengetahuan dan menerangkan nilai ilmiah serta kemanfatannya bagi murid. Beliau telah menyusun ilmu-ilmu itu menurut kepentingan dan kemanfaatan ilmiahnya.

2.1.3. Konsep Kurikulum Imam Al-Ghozali
Mengenai kurikulum pelajaran, Al-Ghazali telah menyusun kurikulum yang diatur berdasarkan arti penting yang dimiliki oleh masing-masing ilmu seperti berikut ini:
1. Urutan pertama; Al-Qur’an al-Karim, ilmu-ilmu agama seperti Fiqih, Sunnah dan Tafsir.
2. Urutan kedua; Ilmu-ilmu bahasa (bahasa Arab), ilmu Nahwu serta artikulasi huruf dan lafadz. Ilmu-ilmu ini melayani ilmu-ilmu agama.
3. Urutan ketiga; Ilmu-ilmu yang termasuk kategori wajib kifayah, yaitu ilmu kedokteran, ilmu hitung dan berbagai keahlian, termasuk ilmu politik.
4. Urutan keempat; Ilmu-ilmu budaya, seperti syair, sastra, sejarah serta sebagian cabang filsafat, seperti matematika, logika, sebagian ilmu kedoketran yang tidak membicarakan persoalan metafisika, ilmu politik dan etika. Hal ini sesuai dengan firman Allah surat Al-Alaq ayat 1-5:
          
             
Ayat di atas adalah wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, dimulai dengan perintah Tuhan “bacalah”. Iqra’ berarti juga “mengkaji” atau “membaca” terkandung makna di dalamnya sangat luas, karena tidak hanya sebatas membaca wahyu Allah yang tertulis saja (Al-Qur’an dan Hadits) akan tetapi membaca wahyu Allah yang tidak tertulis yaitu (Alam). Pada ajaran dasar Islam itu sendiri tidak memilah-milah antara dunia dan akhirat. Addunya limazra’atil akhirah, dunia adalah ladang penanaman untuk persiapan akhirat, siapa yang menanam akan dapat, adalah ajaran popular Islam. Doa sapu jagat yang artinya memohon kebahagiaan dunia akhirat juga diucapkan setiap muslim di seluruh dunia (Abdurrahman, 2002:44).
Dalam kurikulum al-Ghazali lebih mempunyai dua kecenderungan yaitu:
1. Kecenderungan agama dan tasawuf. Kecenderungan ini membuat al-Ghazali menempatkan ilmu-ilmu agama di atas segalanya, dan memandangnya sebagai alat mensucikan diri dan membersihknnya dari karat-karat dunia.
2. Kecenderungan pragmatis. Kecenderungan ini tampak jelas di dalam karya-karyanya. Al-Ghazali beberapa kali mengulangi penilaiannya terhadap ilmu berdasarkan manfaatnya bagi manusia, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Hal ini terbukti dari ucapannya sendiri bahwa;
“Seluruh manusia itu akan binasa kecuali yang berilmu, dan seluruh orang yang berilmu itu akan binasa kecuali orang yang beramal dan seluruh orang yang beramal itu juga akan binasa kecuali orang yang ikhlas”.
Hal ini sesuai dengan firman Allah surat At-Thoha ayat 75-76:
          *
•             *

“Dan Barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam Keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, Maka mereka Itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang Tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. dan itu adalah Balasan bagi orang yang mensucikan”. (QS. Thaha: 75-76)

2.1.4. Metode Pengajaran Menurut Imam Al-Ghozali
Perhatian Al-Ghazali terhadap metode pengajaran lebih dikhususkan bagi pengajaran pendidikan agama untuk anak-anak. Untuk ini ia telah mencontohkan suatu metode keteladanan bagi mental anak-anak, pembinaan budi pekerti, dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada diri mereka.
Selanjutnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Abidin bahwa: “Metode pengajaran menurut Al-Ghazali dapat dibagi menjadi dua bagian antara pendidikan agama dan pendidkan akhlak” (Abidin, 1998: 97).
Metode pendidikan agama menurut Al-Ghazali, pada prinsipnya dimulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterengan-keterangan yang menguatkan akidah.
Selanjutnya Sulaiman mengatakan: “Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan agama harus mulai diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Sebab yang demikian lantaran dalam tahun-tahun tersebut, seorang anak mempunyai persiapan menerima kepercayaan agama semata-mata dengan mengimankan saja dan tidak dituntut untuk mencari dalilnya” (Sulaiman, 1993: 61). Semenara itu berkaitan dengan pendidikan akhlak, bahwa pengajaran harus mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia. Sehingga Al-Ghazali mengatakan bahwa “ahklak adalah suatu sikap yang mengakar di dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan”.
Beberapa ayat al-Qur’an yang menerangkan pendidikan akhlaq, antara lain sebagai berikut:
             
    

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

            
•     •       

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl: 125)

2.2. Konsep Pendidikan John Dewey
2.2.1. Riwayat Hidup John Dewey
John Dewey lahir di Burlington Amerika pada tanggal 20 Oktober tahun 1859 M, dan meninggal 1 Juni 1952 M, di New York. Sesudah mendapat diploma ujian kandidat, beliau mengabdikan diri menjadi guru selama 2 tahun (1879). Tiga tahun kemudian beliau menjadi mahasiswa lagi dan mendapat gelar doktor dalam filsafat (1884). Ia diangkat menjadi dosen lalu asisten professor dan kemudian professor di Michingan. Sebagai professor dalam filsafat di Chicago, ia memimpin juga dibidang Pedagogik dan mendirikan suatu sekolah percobaan untuk menguji dan mempraktekkan teorinya. Sepuluh tahun ia bekerja keras pada universitas ini dan mengumpulkan serta mendidik orang-orang yang akan meneruskan cita-citanya. Pada tahun 1904 sampai 1931 ia bekerja pada Universitas Columbia di New York, disamping memberikan kuliah filsafat ia juga sering diundang oleh berbagai negara untuk memberikan kuliah, seperti : Jepang, China, Turki, Mexico, Rusia, dan Inggris. Dan pada usianya yang ke-93 ia meninggal dunia pada tahun 1952.

2.2.2. Hakekat dan Tujuan Pendidikan Menurut John Dewey
Dewey menjadi sangat terkenal karena pandangan-pandangannya tentang filfsafat pendidikan. Pandangan-pandangan yang dikemukakan banyak mempengaruhi perkembangan pendidikan modern di Amerika. Ketika ia pertama kali memulai eksperimennya di Universitas Chicago, ia mulai mengkritik tentang sistem pendidikan tradisional yang bersifat determinasi. Sekarang ini, pandangannya tidak hanya berlaku di Amerika tetapi juga di banyak negara lain di seluruh dunia.
Bagi Dewey, kehidupan masyarakat yang berdemokratis adalah dapat terwujud bila dalam dunia pendidikan hal itu sudah terlatih menjadi suatu kebiasaan yang baik. Ia mengatakan bahwa ide pokok demokratis adalah pandangan hidup yang dicerminkan dengan perlunya partisipasi dari setiap warga yang sudah dewasa dalam membentuk nilai-nilai yang mengatur hidup bersama. Ia menekankan bahwa demokrasi merupakan suatu keyakinan, suatu prinsip utama yang harus dijabarkan dan dilaksanakan secara sistematis dalam bentuk aturan sosial politik (Zamroni, 2001: 31). Sehubungan dengan hal tersebut maka Dewey menekankan pentingnya kebebasan akademik dalam lingkungan pendidikan. Ia dengan secara tidak langsung menyatakan bahwa kebebasan akademik diperlukan guna mengembangkan prinsip demokrasi di sekolah yang bertumpuh pada interaksi dan kerja sama, berdasarkan pada sikap saling menghormati dan memperhatikan satu sama lain; berpikir kreatif menemukan solusi atas problem yang dihadapi bersama, dan bekerja sama untuk merencanakan dan melaksanakan solusi. Secara implisit hal ini berarti sekolah demokratis harus mendorong dan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk aktif berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, merancang kegiatan dan melaksanakan rencana tersebut.
Dewey sangat menganggap penting pendidikan dalam rangka mengubah dan membaharui suatu masyarakat. Ia begitu percaya bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana untuk peningkatan keberanian dan pembentukan kemampuan inteligensi. Dengan itu, dapat pula diusahakan kesadaran akan pentingnya penghormatan pada hak dan kewajiban yang paling fundamental dari setiap orang. Baginya ilmu mendidik tidak dapat dipisahkan dari filsafat. Maksud dan tujuan sekolah adalah untuk membangkitkan sikap hidup yang demokratis dan untuk mengembangkannya. Pendidikan merupakan kekuatan yang dapat diandalkan untuk menghancurkan kebiasaan yang lama dan membangun kembali yang baru.

2.2.3. Kurikulum dan Metode Pendidikan John Dewey
Bagi Dewey, lebih penting melatih pikiran manusia untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dari pada mengisinya secara sarat dengan formulasi-formulasi secara syarat teoritis yang tertib. Pendidikan harus pula mengenal hubungan yang erat antara tindakan dan pemikiran, antara eksperimen dan refleksi. Pendidikan yang merupakan kontiunitas dari refleksi atas pengalaman juga akan mengembangkan moralitas dari anak-anak didik. Dengan demikian belajar dalam arti mencari pengetahuan, merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Dalam proses ini, ada perjuangan yang terus menerus untuk membentuk teori dalam konteks eksperimen dan pemikiran. Ia juga mengkritik sistem kurikulum yang hanya “ditentukan dari atas” tanpa memperhatikan masukan-masukan dari bawah.
Untuk memahami pemikiran John Dewey, kita harus berusaha untuk memahami titik-titik lemah yang ada dalam dunia pendidikan itu sendiri. Ia secara realistis mengkritik praktek pendidikan yang hanya menekankan pentingnya peranan guru dan mengesampingkan peranan para siswa dalam sistem pendidikan. Penyiksaan fisik dan indoktrinasi dalam bentuk penerapan doktrin-doktrin menghilangkan kebebasan dalam pelaksanaan pendidikan.
Dewey mengadakan penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan mencoba menerapkan teori pendidikannya dalam praktek di sekolah-sekolah. Hasilnya, ia meninggalkan pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan menghafal. Sebagai gantinya, ia menekankan pentingnya kreativitas dan keterlibatan siswa dalam diskusi dan pemecahan masalah. Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. Sains menurutnya, tidak mesti diperoleh dari buku-buku, melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual, tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif, penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan dan Analisis
Nama lengkap Al-Ghazali adalah Muhammad bin Muhammad, mendapat gelar Imam besar Abu Hamid Hujjatul Islam yang dilahirkan pada tahun 450 H/ 1085 M, di suatu kampung Ghazalah, Thusia, suatu kota di Khurasan, Persia.
1. Al-Ghozali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat pendidikan Islam mengenai tujuan pendidikan. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlaq, dimana fadlilah (keutamaan) dan taqorrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan, hal ini sesuai dengan firman Allah (QS. Al-A’raf: 176-177), Ayat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah SWT menyatakan bahwa sekiranya Kami menghendaki, pasti Kami menyucikan jiwanya dan meninggikan derajatnya dengannya yakni melalui pengamalannya terhadap ayat-ayat itu, tetapi dia mengekal yakni cenderung menetap terus menerus di dunia menikmati gemerlapnya serta merasa bahagia dan tenang menghadapinya dan menurutkan dengan antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.
2. Mengenai kurikulum pelajaran, Al-Ghazali telah menyusun kurikulum yang diatur berdasarkan arti penting sebagai berikut:
a. Urutan pertama; Al-Qur’an al-Karim, ilmu-ilmu agama seperti Fiqih, Sunnah dan Tafsir.
b. Urutan kedua; Ilmu-ilmu bahasa (bahasa Arab), ilmu Nahwu serta artikulasi huruf dan lafadz. Ilmu-ilmu ini melayani ilmu-ilmu agama.
c. Urutan ketiga; Ilmu-ilmu yang termasuk kategori wajib kifayah, yaitu ilmu kedokteran, ilmu hitung dan berbagai keahlian, termasuk ilmu politik.
d. Urutan keempat; Ilmu-ilmu budaya, seperti syair, sastra, sejarah serta sebagian cabang filsafat, seperti matematika, logika, sebagian ilmu kedoketran yang tidak membicarakan persoalan metafisika, ilmu politik dan etika.
3. Dalam kurikulum al-Ghazali lebih mempunyai dua kecenderungan yaitu:
a. Kecenderungan agama dan tasawuf
b. Kecenderungan pragmatis

Metode pendidikan agama menurut Al-Ghazali, pada prinsipnya dimulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterengan-keterangan yang menguatkan akidah.

John Dewey lahir di Burlington Amerika pada tanggal 20 Oktober tahun 1859 M, dan meninggal 1 Juni 1952 M, di New York.
1. Hakikat dan tujuan pendidkan menurut Dewey :
Secara implisit dewey berpendapat bahwa sekolah harus demokratis mendorong dan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk aktif berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, merancang kegiatan dan melaksanakan rencana tersebut.
2. Kurikulum dan Metode Pendidikan John Dewey:
a. Pendidikan harus mengenal hubungan yang erat antara tindakan dan pemikiran, antara eksperimen dan refleksi, secara realistis dewey mengkritik praktek pendidikan yang hanya menekankan pentingnya peranan guru dan mengesampingkan peranan para siswa dalam sistem pendidikan.
b. Penyiksaan fisik dan indoktrinasi dalam bentuk penerapan doktrin-doktrin menghilangkan kebebasan dalam pelaksanaan pendidikan. ia meninggalkan pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan menghafal. Sebagai gantinya, ia menekankan pentingnya kreativitas dan keterlibatan siswa dalam diskusi dan pemecahan masalah. Sains menurutnya, tidak mesti diperoleh dari buku-buku, melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna.

Dari kesimpulan di atas sudah sangat jelas bahwa terdapat perbedaan pandangan konsep pendidkan menurut imam al-Ghozali dan John Dewey, yakni imam al-Ghozali lebih mementingkan konsep pendidikan yang mengacu pada akhlaq akan tetapi tidak mengenyampingkan ilmu-ilmu umum. Pada zaman modern ini konsep Imam al-Ghozali yang menggunakan metode hafalan, pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil sekarang sudah tidak sesuai dengan kurikulum yang digunakan di Indonesia. Jika tidak disatukan dengan pembelajaran yang mengaktifkan siswa, maka siswa hanya akan cenderung pasif menerima doktrin tanpa ada penalaran dan mengeksplorasi dengan sendirinya. Sedangkan John Dewey lebih memfokuskan konsep pendidikannya pada sistem demokrasi, ia meninggalkan pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan menghafal. Dia lebih suka dengan sistem pendidikan yang modern dengan jargonnya learning by doing, dimana proses kegiatan belajar mengajar lebih mementingkan keaktifan siswa dalam mengeksplorasi kemampuannya dan memecahkan masalah.
Sangat menarik bila konsep imam al-Ghozali dan John Dewey disatukan dalam suatu sistem pembelajaran, karena tidak memungkiri bahwa dalam belajar siswa butuh menghafal, aktif, kreatif dan juga berbudi luhur. Semuanya itu dikarenakan seberapapun tingginya ilmu tanpa akhlaq yang mulia, maka ilmu itu tidak akan bersinar dan tidak bisa menyelamatkan di akhirat nanti.

2. Saran dan Kritik
Dengan terselesaikannya makalah ini, kami selaku penulis berharap agar makalah ini bisa menambah pengetahuan kita tentang beberapa pemikiran pendidikan oleh tokoh-tokoh pendidikan baik dari kalangan ilmuwan muslim maupun ilmuwan barat. Sebagai bentuk kepedulian atas hasil penulisan makalah ini, kami sebagai penulis mempunyai beberapa saran, antara lain:
a. Bagi para guru sebaiknya memahami secara mendalam tentang hakikat pendidikan yang sebenarnya, yakni membuat anak didik berkembang menjadi manusia yang utuh. Dimana guru harus benar-benar bisa membawa perubahan terhadap kondisi siswanya, dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang berbudi jelek menjadi luhur dan lain sebagainya.
b. Bagi para mahasiswa seperjuangan hendaknya lebih mengkaji secara medalam tentang biografi beberapa tokoh pendidikan dunia, baik yang muslim atau non muslim dan baik yang barat maupun orang pribumi. Semuanya itu tidak lain karena mereka adalah sumber pemikiran yang tak ternilai harganya bagi kita semua.
Dari lubuk hati yang dalam, jelaslah makalah ini belum bisa mendekati kesempurnaan, oleh karena itu penulis meminta saran dan kritik dari semua pihak. Kesempurnaanlah yang menjadi keinginan semua orang dalam hidupnya dan akhirnya penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin. 1998. Pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan. Jogyakarta: Pustaka Pelajar.
Al-Ghazali. 2003. Ihya’ ulumuddin. Libanon: Bairut.
Departemen agama, al-Qur’an dan Tafsirnya. 1990. Jakarta: Proyek pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an.
Fatiyah, Sulaiman Hasan. 1993. Pendidikan Al-Ghazali. Bandung: Darul Ma’arif.
http//www.wikipedia.org
http://ihwansalafy.wordpress.com
http://samuderailmu2.googlepages.com
Nata Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Cipitat: Logos Wacana Ilmu.
Nata Abuddin. 2003. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suyitno. 2009. Tokoh-Tokoh Pendidikan Dunia (Dari Dunia Timur, Timur Tengah dan Barat). Jakarta: UPI Press.
Zamroni. 2001. Pendidikan Untuk Demokrasi: Tantangan Menuju Civil Society. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s